Home   Article   Cinta seberat 15 gram – Chicken Soup For The Soul

Cinta seberat 15 gram – Chicken Soup For The Soul

Siapa pun diriku saat ini, atau akan menjadi apa ku kelak, aku berutang budi kepada ibuku yang bagaikan malaikat.
– Abraham Lincoln –

Ibuku menjalin hubungan yang erat denganku lewat cara yang sangat halus. Tiap kontak hanya seberat lima belas gram. Bentuknya surat-surat lewat pos, warkat pos biru yang sudah ada prangkonya, dilipat, dan direkat membentuk amplop kecil. Berbagai kenanganku tentang semua itu terus tinggal bertahun-tahun setelah kematiannya.

Kiriman surat ibuku sampai kepadaku setiap minggu tiada putusnya. Surat itu datang setiap minggu selama seperempat abad, surat ringan warna biru pucat itu tersembunyi di antara surat-surat yang lebih tebal dan berat. Aku menyukai tulisan tangan ibuku. Kami terpisah ribuan mil. Seewaktu aku pertama kali meninggalkan Inggris untuk pindah ke kediaman baruku di Amerika Serikat, aku amat rindu kampung halamanku. Bersamaan dengan kiriman surat lewat pos itu, datang pula kiriman paket berisi bahan-bahan pembuat saus gravy cokelat, tepung custrad, teh kesukaanku, dan kadang-kadang cokelat. Akan selalu ada surat datang setiap minggu, yang jauh lebih penting ketimbang makanan-makanan itu. Tak sabar aku untuk membalasnya. Aku bersemangat membalas agar menerima lebih banya surat lagi.

Apa yang kami tuliskan? Tunjangan untuk bertahan macam apa sih yang dikirimkan ibuku kepadaku? Dia menceritakan kepadaku bahwa Bibi Winnie datang berkunjung, anjing labrador Cecil mengunyah sarung tangan kulit, tanaman kaktus telah berbunga. Tulisan tangan kami menghaluskan kabar duka dan menambah keriangan peristiwa yang menggembirakan. Beliau tidak memiliki telepon selama bertahun-tahun itu; bila kontak lewat telepon dilakukan, biasanya membawa kabar buruk. Surat-surat yang kemudian datang menyusul memberikan lebih banyak detailnya, mengungkapkan pikiran-pikiran di balik berbagai tragedi itu. Sewaktu anak lelaki abangku Derek meninggal akibat kecelakaan, aku tidak dapat meninggalkan St. Louis karena ada badai es. Ibuku menceritakan lewat surat acara selamatan setelah pemakamannya. Dia menuliskan bahwa Derek tiada henti membuatkan teh untuk setiap orang. Kata-katanya saja sudah mengatakan segalanya.

Setiap pucuk suratnya kepadaku dimulai dengan, “Kami senang sekali menerima suratmu, Sayang.” Dia senang. Dia menyambut kalimat-kalimatku. Dia minta cerita mengenai keluargaku, anjing-anjingku, tanamanku, makanan di rumahku, dan kabar nasib baik dan buruk.

Sewaktu aku membalas, aku ingin merasa bangga akan apa yang telah aku lakukan selama seminggu itu. Senangnya mengatakan kepadanya bahwa aku pergi ke gereja, memelihara dan menyumbangkan ketrampilan dan bakatku. Kata-kata di dalam surat itu, merupakan kisah-kisah hidupku yang terjadi di negeri asing.

Dia terus menulis sampai tiga minggu sebelum wafatnya. Dukungan dan perhatian ibuku mengarahkan kami sekeluarga ke suatu kebiasaan untuk saling bertukar kabar. Beberapa di antara kami kini menggunakan e-mail, tarif telepon yang murah, dan tarif pesawat murah untuk terbang melintasi samudra demi terus menjalin hubungan. Namun, sewaktu aku mengenang surat-surat ibuku, ditulis di tempat yang tenang, dilipat, dikirimkan lewat pos dan diterima dengan senang hati, aku pun mulai menulis. Tidak ada tombol “delete” (hapus) untuk surat yang ditulis, tidak ada tombol “backspace” (mundur) untuk menghapus kata-kata yang sudah tertulis. Setiap kata sudah ditimbang dengan seksama sebelum diposkan.

Aku dan keluargaku menghargai kenangan cinta ibuku seberat lima belas gram yang tiada celanya. Anjing-anjing yang nakal, tirai baru, bunga-bunga yang bermekaran, serta makanan yang lezat masih terus dikisahkan. Ibu telah memberi kami bekal dasar kemuliaan hatinya.

Oleh Sylvia Duncan

Sumber :
Buku Chicken Soup For The Soul “Cinta Seberat 15 Gram” hal. 106

 

Share