Home   Article   Tangguh Dalam Kondisi Apa pun

Tangguh Dalam Kondisi Apa pun

“Saya tidak akan membiarkan anak naik kendaraan umum kemana-mana. Toh, ada mobil dan sopir yang bisa mengantar, tidak seperti masa kecil saya.”

“Anak saya mencuci piring sendiri? Wah, tidak boleh! Cukup saya saja yang begitu.”

Memang, tidak ada yang salah jika Anda punya pikiran seperti di atas. Sebagai orang tua, Anda tentu ingin selalu membuat anak Anda merasa nyaman supaya tidak mengalami hal-hal tidak menyenangkan yang pernah Anda alami di masa lalu. Namun, menurut Nessi Purnomo, psikolog anak dan keluarga, anak juga perlu tahu bahwa hidup tidak semuanya indah dan selalu nyaman seperti yang dia rasakan selama ini.

“Meskipun secara ekonomi orang tua mampu memberikan anak berbagai macam fasilitas, kalau Anda tidak ingin menjadikan pergi kemana-mana naik angkot sebagai keseharian, minimal anak tahu bahwa tidak semua orang pergi kemana-mana naik mobil, misalnya. Karena tidak punya mobil, banyak orang yang harus naik motor dan kendaraan umum, serta berjalan kaki untuk bepergian,” tambah Nessi.

Oleh karena itu, Nessi menyarankan bahwa orang tua juga perlu sesekali mengajak anak mereka mendapatkan berbagai pengalaman yang tidak nyaman dan tidak menyenangkan.” Bisa jadi anak akan banyak mengeluh, merengek atau bahkan menangis, saat diajak melakukan itu pada awalnya. Justru di situlah peran penting Anda untuk membuat situasi yang ada jadi tidak terlalu menyedihkan atau terasa menyusahkan.

Kecakapan anak untuk kuat atau “tahan banting” di berbagai situasi memang tergantung juga dari kemampuannya beradaptasi. Dan hal itu dipengaruhi oleh pola keseharian anak yang dibuat oleh orang tua.

Yang paling penting dari mengenalkan anak kepada berbagai situasi yang berbeda dari biasanya adalah mengajak anak mencari alternatif solusi. Artinya, anak belajar untuk tidak menyalahkan situasi yang sulit tersebut, tapi mampu menemukan apa yang bisa ia lakukan dengan situasi tersebut.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk mendampingi anak dalam proses adaptasi :
1. Ketangguhan dimulai dari orang tua.
Cara orang tua menghadapi situasi sulit atau tak nyaman di kehidupan sehari-harilah yang menjadi contoh. Dari melihat respons orang tua terhadap situasi-situasi tersebut anak akan bercermin dan belajar juga. Apakah mengeluh, marah-marah, atau tetap tenang dan mencari jalan keluar. Kalau ia melihat orang tuanya santai dalam situasi yang tidak menyenangkan maka ia juga akan melakukan hal yang sama.

2. Lakukan bersama dengan cara menyenangkan.
Traveling bisa menjadi salah satu cara fun mengajarkan anak mandiri dan beradaptasi dengan banyak hal.

3. Beri tantangan
Anak-anak sejak kecil dibiasakan juga mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga sebisa mereka, seperti menyapu, mengangkat jemuran, memasukkan baju kotor ke dalam mesin cuci, menyiram tanaman, atau membantu orang tua memasak dan hal tersebut dilakukan baik anak perempuan maupun laki-laki. Kelak anak terbiasa untuk melalukan berbagai hal dan tidak hanya mengandalkan orang tua.

4. Terbukalah, tapi dengan bahasa yang anak pahami.
Mulailah untuk mengajak anak Anda berdiskusi. Jawab semua pertanyaan anak dengan jujur, tidak perlu dipermanis.

“Dampingi anak menjalani proses adaptasi dengan wajah Anda yang happy, biar fun. Kalau orang tua banyak mengeluh, ya anak akan merasa bahwa itu pengalaman yang tidak menyenangkan. Hal tersebut akan terbawa, sehingga anak bisa menolak ketika diajak melakukan hal yang sama selanjutnya.” uangkap Nessi Purnomo.

Sumber :
majalah Parenting hal. 101 terbit bulan Januari 2016

 

Share